Minggu, 06 Desember 2015

The Gilis Trip

June, 2014.

What i did the day after i resigned from my first workplace was flew from Soekarno-Hatta Airport to Lombok International Airport. But classic story happened. Long delayed flight. When i landed in Lombok, it was too late if i want to continue my trip to Gili Trawangan. I stayed at Kuta Beach for that night. 

Not a good start.

In the morning, I crossed to Gili Trawangan by small ferry boat. Then suddenly everything happened really well. The ferry captain introduce me to one of the passenger who actually work on a hotel. I decided to stay at that place because actually i had no plan. The place is beyond my expectation. It was nice, clean, and very quiet. I forgot the name but it was infront of the turtle's breeding place. One of my luck, this place had its grand opening that night. So, free flow for all drinks! :) 

Hours before, I spent the first afternoon by walking at the seashore. As i mentioned before, i had no plan at all. I realised later at night that the day after was the first day of Fasting Day. No wonder there wasn't many local tourist.

see the colour gradient of the sea?

The next day, I woke up and still had no plan. After long time done nothing, i had this thought to do snorkelling. And in my personal opinion, I enjoyed snorkelling in Karimun Jawa much better than in Gili. The water in Gilis are deeper than in Karimun Jawa, so the coral reefs are high and the fish is so far down there. I got some scratches on my left foot because I went deeper in order to see the fish. Maybe it would be better if i dived rather than snorkelled. But since i didn't had any diving license, so yeah.... However, the fishes were more colourful than what i saw in Karimun Jawa. It was like those fishes I saw on books. 

But seriously, those Gilis were really such a place for doing nothing but stare. There was some kind of atmosphere that made you felt comfortable even if you did nothing. Everything pleased the eyes. The sea, the sand, the wave, the clouds, the trees, the boat, wherever you're looking at. The time went slowly. The Gilis made you calm and at peace as if you don't have any struggle in life.
Gili Meno
Gili Trawangan


The sun went down and I thought I wanna see the sunset. So I went to the other side of the island by riding bicycle. Earlier than others. But that day wasn't the best day to saw the sunset. It was cloudy. I wasn't able to see the sun disappear at the horizon. 
cloudy sunset
the mermaid was late for the sunset



Unfortunately I couldn't stay here longer.  I have to go home. 
So here's what I saw on my way to the airport
Sengigi beach


And this was my view from hundreds feet above the sea level
Mount Gede above the cloud

Not that "fun" trip, huh?
I'm not looking for fun stuff back then. I was looking for happiness. And i always know that happiness is one day at the beach.

Long story short, right after I landed at the airport, I checked my e-mail and I got this mail said I had to attend a briefing for new employee on my new office.
New chapter in my life begin.
Thank you for giving me a piece of peace to start my new chapter in life, Gilis. I'll see you again when I need your help to find that inner peace

Rabu, 10 Agustus 2011

Candi Plaosan

Dinamakan Candi Plaosan, karena terletak di Dukuh Plaosan. Lokasinya dekat dengan Candi Prambanan, hanya berjarak sekitar satu kilometer. Kompleks Candi ini disebut candi kembar karena terdiri dari dua area besar, yaitu Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Candi kembar dibangun untuk melambangkan pria dan wanita, raja dan ratu. Hal ini terlihat pada relief bangunan induk candi. Relief yang terdapat di dinding candi utara adalah relief-relief bergambar wanita sedangkan di candi selatan reliefnya bergambar pria.
Pembangunan Candi Plaosan berawal dari kisah cinta beda agama antara Rakai Pikatan dan Pramudya Wardhani. Rakai Pikatan adalah raja keenam Kerajaan Mataram Lama dari Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu. Ratunya, Pramudya Wardhani, memeluk agama Buddha karena ia adalah puteri Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Pernikahan antara keduanya konon tidak direstui oleh kedua keluarga. Rakai Pikatan pun kemudian membangun Candi Plaosan sebagai bukti cinta untuk Pramudya Wardhani.
Perbedaan agama yang mereka miliki terpadu dalam bangunan ini, menjadikan Candi Plaosan unik.. Bentuk pondasi bangunan lebar seperti candi Buddha, namun candi ini dibuat tinggi khas candi Hindu. Keberadaan dua buah candi induk bersama arca-arca dan stupa-stupa yang mengitari candi induk mencirikan arsitektur Buddha. Arsitektur agama Hindu bisa dilihat di candi-candi perwara yang mengitari candi induk.

Senin, 23 Agustus 2010

Ullen Sentalu, Museum Para Puteri Keraton

Juli 2010 saya menyempatkan diri mengunjungi Museum Ullen Sentalu di daerah Kali Urang, Jogjakarta. Sepertinya, banyak orang yang belum mengetahui tentang keberadaan museum ini. Padahal menurut saya, ini adalah museum terbagus yang pernah saya kunjungi sampai saat ini. Yang saya lihat di Kota Tua Jakarta, umumnya museum-museum yang ada adalah bangunan tua yang diubah menjadi museum. Tapi tidak demikian halnya dengan Ullen Sentalu. Apabila museum lain terkesan tua dan tidak terawat, pembangunan Ullen Sentalu justru terlihat sangat direncanakan dengan baik.

Nama Ullen Sentalu merupakan singkatan dari bahasa Jawa: “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Filsafah ini diambil dari sebuah lampu minyak yang dipergunakan dalam pertunjukkan wayang kulit (blencong) yang merupakan cahaya yang selalu bergerak untuk mengarahkan dan menerangi perjalanan hidup kita. Museum ini diresmikan pada tanggal 1 Maret 1997 dan diresmikan oleh KGPAA Paku Alam VIII (saat itu menjabat Gubernur DIY). Museum ini terletak di dalam Taman Kaswargan. Taman Kaswargan sendiri berada dalam suatu "historical district", yaitu kawasan bersejarah seperti Pesanggrahan Ngeksigondo, yang dibangun atas perinta Sultan Hamengku Buwono VII sebagai tempat perustirahatan keluarga Kasultanan Ngayogyakarta, dan Wisma Kaliurang yang pernah digunakan untuk perundingan Komisi Toga Negara pada masa revolusi kemerdekaan RI.

Ada beberapa ruangan di dalam museum ini, yaitu Ruang Selamat Datang, Ruang Seni Tari dan Gamelan, Guwa sela Giri, 5 ruang di Kampung Kambang, Koridor Retja Landa, serta Ruang Budaya. Selain sebagai ruang penyambutan tamu / pengunjung museum, di Ruang Selamat Datang juga terdapat banner latar belakang pendirian museum Ullen Sentalu serta arca Dewi Sri, simbol kesuburan. Di Ruang Seni Tari dan Gamelan terdapat seperangkat gamelan yang merupakan hibah dari salah seorang pangeran Kasultanan Yogyakarta dan pernah dipergunakan dalam pertunjukkan wayang orang dan pagelaran tari di kraton Yogyakarta. Selain itu, di ruang ini juga terdapat beberapa lukisan tari, salah satunya gambar tari topeng yang juga terdapat pada tiket masuk. Berlanjut Ruang Guwa Sela Giri yang merupakan suatu ruang pamer yang dibangun di bawah tanah, karena menyesuaikan dengan kontur tanah yang tidak rata. Ruang ini memamerkan karya-karya lukis dokumentasi dari tokoh-tokoh yang mewakili figur 4 kraton Dinasti Mataram. Lalu pada ruangan Kampung Kambang yang merupakan areal yang berdiri di atas kolam air dengan bangunan berupa ruang-ruang di atasnya, terdapat lima ruang pamer museum, yaitu:
..Ruang Syair untuk Tineke, yang menampilkan syair-syair yang diambil dari buku kecil GRAj Koes Sapariyam (putri Sunan PB XI, Surakarta) dan ditemukan di suatu ruang di dalam Kaputren Kasunanan Surakarta. Syair-syair itu ditulis dari tahun 1939-1947, oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam yang akrab dipanggil Tineke sebagai puisi-puisi kenangan. Pada zaman dahulu, puteri-puteri raja masih harus merasakan perjodohan, salah satunya Tineke.. Pada awalnya beliau menolak dijodohkan, namun akhirnya ia "menyerah" juga, lalu saudara-saudaranya menuliskan puisi-puisi hiburan. ada satu puisi yang masih saya ingat
"Gusti sayang, kupu tanpa sayap tak ada di dunia ini. mawar tanpa duri jarang ada atau boleh dikata tak ada. Persahabatan tanpa cacat juga jarang terjadi. tetapi cinta tanpa kepercayaan adalah suatu bualan terbesar di dunia ini."
..Royal Room Ratoe Mas, Suatu ruang yang khusus dipersembahkan bagi Ratu Mas, permaisuri Sunan Paku Buwana X
..Ruang Batik Vorstendlanden, Menampilkan koleksi batik dari era Sultan HB VII - Sultan HB VIII dari Kraton Yogyakarta serta Sunan PB X hingga Sunan PB XII dari Surakarta. Melalui koleksi tersebut terlihat suatu proses seni dan daya kreasi masyarakat Jawa dalam menuangkan filosofi yang dianutnya melalui corak motif batik. Ada satu kain batik di ruang ini yang konon hanya ada satu di dunia. Motifnya banyak kupu-kupu, dan saya suka. Menurut guide, kupu-kupu memang sepertinya menjadi favorit keluarga keraton. Kupu-kupu banyak ditemukan di motif kain, bros, hiasan topi, maupun benda-benda lain.
..Ruang Batik Pesisiran, Ruang ini melengkapi proses akulturasi budaya yang ada di Jawa. Dipamerkan kostum, yaitu keindahan bordir tangan dari kebaya-kebaya yang dikenakan kaum peranakan mulai jaman HB VII (1870-an) serta kain batik yang lebih kaya warna.
..Ruang Putri Dambaan. Ruang ini dikatakan sebagai album hidup GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur. Ruang ini sangat istimewa karena terasa kedekatannya dengan Sang Tokoh, yang meresmikan sendiri Ruang Putri Dambaan tersebut pada ulang tahun ke-81 pada tahun 2002.Gusti Nurul adalah putri Mangkunegaran yang memberi inspirasi para pangeran Mataram untuk tidak berpoligami. Dulu, Gusti Nurul sempat ditaksir oleh Presiden Soekarno dan beberapa pria hebat lainnya. Namun mereka semua ditolak karena sudah memiliki isteri. Saat ini Gusti Nurul tinggal di Bandung, karena dulu almarhum suaminya bertugas di Bandung.

Terdapat pula Koridor Retja Landa yang merupakan museum outdoor yang memamerkan arca-arca dewa-dewi dari abad VIII-IX M. Kemudian ada Ruang Budaya yang memamerkan beberapa lukisan raja Mataram, lukisan serta patung dengan tata rias pengantin gaya Surakarta serta Yogyakarta. Ada sebuah lukisan, yakni lukisan pengantun Jawa, yang berukuran besar tergantung di dinding. Saya sebenarnya tidak heran saat mengetahui bahwa setiap detail dalam pakaian nikah adat Jawa memiliki arti masing-masing, tapi setelah mengetahui arti dari benda-benda yang dikenakan tersebut, saya menjadi terharu. Bagaimana seorang isteri harus dihormati, melayani, menjaga, selalu mengingat Tuhan, hingga harus setia kepada satu suami (meskipun sang suami belum tentu monogami)...

Harga tiket masuk museum bervariasi. Untuk wisatawan mancanegara dikenakan biaya sebesar Rp 50.000 (US $ 5.00), sedangkan pelajar mancanegara dikenakan Rp 25.000. Wisatawan domestik cukup membayar Rp 25.000, sedangkan bagi anak-anak dan mahasiswa domestik hanya Rp15.000. Jadi, bagi pala pelajar, jangan lupa membawa kartu tanda pelajar atau kartu tanda mahasiswa. Dengan membayar tiket, kita sudah mendapat jasa guide dan segelas minuman spesial di akhir kunjungan. Minuman ini resepnya dibuat oleh Gusti Kanjeng Ratoe Mas, putri Sultan HB VII yang disunting sebagai permaisuri Raja Surakarta, Sunan PB X. Konon, minuman ini memberi kesehatan dan awet muda. Di dalam museum ada beberapa ruang batik, namun sayang ketika saya berkunjung ruangan-ruangan tersebut sedang diperbaiki. Saya juga tidak sempat mengunjungi restaurant dan art shop karena terburu-buru pulang.

Kita tidak bisa memasuki museum segera setelah kita membeli tiket. Pintu dibuka setiap satu jam sekali. Hal ini dilakukan agar keluar masuk museum lebih terorganisir dan guide pun bisa lebih teratur. Dan memang, saya menghabiskan waktu kutrang lebih satu jam untuk tour ini. Seperti yang sudah saya utarakan diawal, museum ini memang benar-benar terkonsep. Saya sangat menikmati kunjungan saya karena guide yang menemani saya sangat bersemangat. Terlihat pintar dan menguasai seluk beluk museum. Selain itu beliau juga dengan sabar menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang saya ajukan, atau hal-hal yang saya lupa dari penjelasannya. Sayang sekali saya lupa namanya. hahahahaha...

Kita tidak boleh berfoto di dalam museum. Tapi ketika kunjungan berakhir, ada taman yang bisa kita gunakan untuk berfoto. Tamannya terlihat asri dan terawat. Bagus juga sepertinya untuk dijadikan lokasi prewedd :P




www.ullensentalu.com

Senin, 09 Agustus 2010

Karimun Jawa, i love you..

Berawal dari ajakan seorang teman kampus yang bernama Zahid, saya memutuskan untuk mengisi libur di bulan Juli dengan mengunjungi Kepulauan Karimunjawa. sebenarnya waktu diajak dan mengiyakan, saya belum tau dimana letak daerah ini. Tapi, terimakasih kepada Goggle, akhirnya saya tau bahwa Taman Laut Karimunjawa terletak di Kabupaten Jepara.

Tanggal sudah ditentukan, tanggal 10-13 Juli 2010, saya dan 8 orang teman berlibur ke Karimunjawa. Tanggal 8 malam kami sudah berangkat dari Bandung menuju Jogja. Dilanjutkan tgl 9 malam berangkat ke Pelabuhan Kartini Jepara dengan menggunakan travel. Kemudian kami masih harus menggunakan Kapal Ferry Muria menuju Karimunjawa. Setelah 6 jam melihat air, akhirnya kami sampai disana..
(oh iya, perhatikan jadwal keberangkatan. Ferry dari Jepara hanya ada di hari Rabu dan Sabtu)

Sore itu kami bermain-main di pantai dekat penginapan. Kaki saya banyak mendapat goresan akibat karang. Oh, saya melihat biawak loh. hahahaha.. Berhubung malam minggu, di Kantor kelurahan dipasang layar tancap. Kami kesana untuk melihat-lihat. Sayangnya, film yang ditayangkan justru film horror semi seks, dan penonton baris depan adalah anak-anak.. ckckckck

Keesokan paginya, dengan menggunakan kapal nelayan kecil, kami mengunjungi Pulau Menjangan Besar, Menjangan Kecil, dan Pulau Cemara. Di Menjangan Besar, kami berenang berasama hiu! Hiu penangkaran sih. Tapi tetap saja hiu.. DI tempat itu ada Penyu juga. Berhubung cuma ada satu, jadinya penyu itu dioper sana-sini untuk diajak berfoto. Sedang asik berenang2, tiba-tiba saya merasa ada yang menggigit kaki saya! Tenang, bukan hiu. Saya cuma digigit ikan karang yang merasa terancam karena saya berdiri diatas daerah teritorinya..

Di Pulau Cemara kami menyempatkan makan siang dan tentunya snorkling. Pada awalnya saya berpikir menyelam ya menyelam saja. Melihat ikan berlarian karena kita mendekat, karang-karang putih bertebaran, air laut warna biru toska.. Ternyata, wow. Karang disini benar-benar berwarna-warni. Maksud saya benar-benar ungu, benar-benar merah, benar-benar hijau, dan benar-benar warna lainnya. Malah saya baru tau ada karang yang berwarna pink.. Saya menemukan bintang laut berwarna biru!!! Saya pikir bintang laut warnanya hanya merah, ternyata seperti itu ya bintang laut. Maklum norak, ini pengalaman snorkling pertama saya, dan sangat mengesankan.. Pasir putih di pulau ini bersih dan halus loh. Kami sempat bermain pasir. Kresna kami kubur dengan pasir seolah-olah sudah meninggal..

Berlanjut ke Pulau Menjangan Kecil. Saya dan Ruth sempat tenggelam karena Ruth panik. Saya tidak menggunakan pelampung karena bisa berenang. Ruth yang menyangka airnya dangkal tidak mengenakan pelampung dan kemudia berusaha berpegangan pada saya. Tapi berhubung badan saya kecil, ya jadinya tidak imbang. Akhirnya kami berpegangan pada Kresna. Penyelamat!!!! hahahaha.. Mas Fajar yg tadinya tidak ingin masuk air akhirnya nyemplung juga dan membawa pelampung untuk saya dan Ruth. Thank you Mas!!!

Saat kami di Tanjung Gelam, saya ditawari oleh guide kapal tetangga untuk mencoba babi laut panggang. Rasanya?? yaaaa begitulah, coba sendiri saja. Sepanjang sisa waktu, kami berfoto dan bermain di pantai. Guide kami menawarkan "makanan" lain kepada saya, semacam tumbuhan laut berwarna hijau cendol. Bentuknya bergerombol seperti anggur tapi bulatannya hanya sebesar mutiara yg biasa ada di es campur. Rasanya?? Asin. hahahaha. Kami menemukan keong laut dan teripang. Kami sempat kaget karena guide kami mengatakan kami harus pindah ke lokasi lain karena ada ikan pari. Lalu ketika hari mulai sore, kami kembali ke penginapan sambil disambut hujan. Setelah mandi dan makan, saya langsung tidur. Capek berenang seharian..

Hari Senin, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Tengah, Pulau Kecil, dan sebuah gosong. Akibat hujan malam sebelumnya, volume air lebih banyak dan ombak agak besar. Pemilik tour bertanya kepada saya, apakah saya berani apabila harus mengambil jalur pendek yang ombaknya besar. saya jawab saja berani, dan kami mengambil jalur pendek yg (menurut saya) menyenangkan.. Ternyata ombaknya memang besar!!!! hahahahaha untungnya kami sampai dengan selamat. Di Pulau Tengah kami snorkling lagi. Disini saya tidak lama ber-snorkling. Saya merasa mual karena snorkling di tempat yang bergelombang besar seperti itu. Setelah sempat melihat ikan badut, saya memutuskan untuk berenang menepi ke pantai dan menikmati kelapa muda. Laut berwarna tosca, langit biru, awan putih, angin berhembus, dan kelapa muda utuh di pegangan. Ini baru liburan!!!
Hujan turun saat kami makan siang. Untung ikan-ikan menu makan siang kami sudah selesai dibakar. hahahaha.. hujan membuat gelombang besar mereda sehingga di Pulau Kecil saya melanjutkan snorkling. Wah, kali ini saya benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Saya berenang agak jauh. Semakin jauh saya berenang, karang-karang semakin bagus. Aduh, seandainya saya puteri duyung dalam dongeng.. Saya berenang ke perairan yg lebih dangkal, dimana karangnya lebih tinggi sekaligus lebih bagus. Beruntung badan saya kecil, jadi meskipun tetap harus berhati-hati, saya bisa lebih leluasa untung berenang di tempat seperti itu.. Kemudian saya kembali berenang mendekati kapal karena sudah merasa capek (untung masih ada Kresna yg ingat saya ada di belakang).
Kami melanjutkan ke sebuah gosong yang berukuran kecil. Semakin diperparah karena dua kapal lain juga menuju kesana. Tapi untungnya kami bisa bergantian tanpa perlu adu otot. bergantian berfoto maksudnya, karena kapal samapai di gosong bersamaan. Sepulangnya darisana, lagi-lagi saya mandi, makan dan tidur. Rencana nonton piala dunia bersama pun kandas karena ternyata teman-teman yang lain juga tidur karena kelelahan..

Keesokan paginya kami bersiap-siap untuk kembali ke Jepara. Dengan menggunakan Ferry Muria, kami menempuh lagi 6 jam di laut. Oh iya, sejak awal perjalanan, kami mendapat teman baru. Sepanjang liburan pun kami kerap kali bertemu, mungkin karena destinasi yang sama. Olivier, Tristan, juga Mas Ari dan Mas Obrien yg serumah dengan kedua bule Perancis itu. Olivier dan Tristan bule dari Perancis yang sedang ikut dosen S2 mereka di Indonesia. Ada lagi bule dari Slovakia (kalau tidak salah) yg baru dari Medan dan Jogja. Dia bekerja keras dan menabung selama 3 tahun untuk keliling dunia. waow.


Kami pulang terpisah. Adit "Kewong" berhenti di Semarang; saya, Rina, Tansa, dan Bayu di Jogja, sedangkan Ruth, Zahid, Kresna, dan Yoga kembali ke Bandung.
Terimakasih semuanya, liburan yang menyenangkan. Ngomong-ngomong, sampai saya menulis tulisan ini, kulit saya masih belang. Kalau ada yang mau ke Karimunjawa, saya sarankan menggunakan Dafista Tour, dijamin enggak ribet lah..



 
Wordpress Theme by wpthemescreator .
Converted To Blogger Template by Anshul .